RSS

Supplier-Buyer Dependency

13 Sep

Kalau berbicara mengenai hubungan antara supplier-buyer… mesti dilihat kekuatan dan ketergantungan satu sama lain, walaupun sifatnya berupa hubungan timbal balik dan tidak bisa dilepaskan. Baik buyer ataupun supplier harus mengetahui posisi dan kekuatan diri sendiri dan pihak lainnya untuk memastikan hubungan yang terjalin berjalan dengan baik dan lancar. Kalau masing-masing pihak telah mengetahui posisi dan kekuatan masing-masing, hubungan keduanya bisa berlanjut ke tingkatan yang lebih dari sekedar penjual dan pembeli, seperti hubungan konsep partnership, cooperation, dan integrasi, bahkan aquisition. Jika satu perusahaan belum mengetahui posisi mereka, kecenderungan yang terjadi adalah ketergantungan pada pihak lain, atau bahkan arogansi yang berlebihan sehingga mengancam kelangsungan perusahaan.

Jika satu perusahaan berada dalam posisi not being dependent, atau berada dalam posisi independence, maka akan memiliki lebih banyak kebebasan memilih dalam melakukan tindakan dan kebijakan untuk mencapai goal atau tujuan, yang jika di persempit dalam konsep penjual pembeli, penjual atau pembeli yang independence  mempunyai keuntungan yang lebih, karena memiliki lebih banyak kebebasan membuat pilihan untuk menentukan jalannya hubungan jual beli, termasuk kekuatan saat melakukan negosiasi. *Garis bawahi memiliki lebih banyak pilihan, karena tidak berarti perusahaan yang independence bisa melakukan apa saja yang diinginkan atau mendikte pihak lain.

Jika satu perusahaan terlalu tergantung pada pihak lainnya, biasanya menghasilkan hasil yang tidak optimal. Walaupun penilaian dependency dan independency juga tidak bisa dilakukan melalui pilihan ya dan tidak, dalam artian tidak semua independency baik, dan tidak semua dependency tidak baik, tapi banyak hal yang harus diperhatikan, termasuk kekuatan pihak lainnya.

Jadi, apa saja faktor yang bisa mempengaruhi dependency suatu perusahaan atau organisasi? Dalam tulisan yang sudah cukup lama, (Determinants of dependence in dyadic buyer-supplier relationship, dan menjadi sumber utama tulisan ini), Gelderman dan Van Weele memberikan model tentatif penyebab ketergantungan suatu organisasi.

1. Nilai transaksi (Financial Magnitude), yang dibandingkan dengan total input yang diperoleh supplier (ketergantungan terhadap buyer) atau total output yang dikeluarkan buyer (ketergantungan terhadap supplier).

2. Criticality. Criticality merujuk pada fungsi terhadap perusahaan. Sesuatu yang kritikal tidak mesti memiliki jumlah dan nilai yang besar. Supplier yang memegang point critical buyer, baik produk, expertise, system, atau lainnya, maka akan semakin besar ketergantungan buyer pada supplier tersebut. Saat ketergantungan antara buyer-supplier meningkat, kolaborasi antara keduanya bisa saja terjadi.

3. Ketersediaan pilihan lain (Availability of alternatives). Akses mendapatkan alternative supply selalu menjadi kunci terhadap ketergantungan perusahaan. Satu perusahaan selalu menjadi sangat tergantung pada pihak lain, kapan saja perusahaan mengalami kesulitan mendapatkan supply yang sama dari tempat yang berbeda. Walaupun untuk mendapatkan efektifitas dan efesiensi pembelian, buyer harus mengurangi jumlah suppliers, yang artinya menggunakan lebih banyak single sourcing dan ketergantungan yang cukup tinggi pada sejumlah kecil supplier. Bahkan beberapa kasus seperti material OEM, buyer tidak memiliki kebebasan sedikitpun dalam memilih.

4. Biaya pengalihan (switching cost). Biaya yang dimaksud adalah biaya yang dikeluarkan jika perusahaan melakukan perubahan trading partner, seperti biaya memutuskan hubungan bisnis dan biaya memulai hubungan bisnis dengan new partner. Partner yag baru berarti partner yang belum memahami kebutuhan, budaya, system, cara, dll perusahaan.

Gelderman dan Van Weele melakukan modifikasi model di akhir tulisan setelah melakukan interview pada para experts, tapi secara garis besar, faktor yang berpengaruh adalah ke-4 faktor di atas.

Masing-masing pihak, baik buyer atau suppier harus melakukan pemetaan terhadap posisi perusahaan dan posisi partner/pihak lain terhadap perusahaan, karena strategy pembelian dan penjualan berdasarkan hasil pemetaan ini.

* Enhancement pemahaman untuk project procurement strategy. Bismillahirrahmaanirrahiim..

 
Leave a comment

Posted by on September 13, 2014 in BOUT SCM, MY OWN

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: