RSS

Category Archives: EDISI KULIAH

Working Capital

Salah satu penilaian fundamental perusahaan adalah working capital. Working capital atau modal kerja perusahaan diperoleh dari current asset – current liabilities. Current asset (aset perusahaan yang bisa dikonversikan ke dalam bentuk cash dalam waktu 1 tahun atau kurang) bisa berupa kas dan setara kas, account receivable, inventory, short term investment, dan securitas *sumber investopedia.

Sementara current liabilities (hutang perusahaan yang jatuh tempo atau harus dibayar dalam waktu 1 tahun atau kurang). Yang termasuk dalam current liabilities adalah account payable, pinjaman dan bunga yang jatuh tempo dalam 1 tahun, accrued liabilities, dan hutang jangka pendek lain.

Working capital yang kecil mengindikasikan kekurangmampuan perusahaan membayar current liabilities, sementara working capital yang besar mengindikasikan perusahaan kurang efektif menggunakan asetnya atau memiliki inventory yang terlalu besar. Angka ratio working capital atau current ratio(current asset/current liabilities) yang dianggap sehat oleh investor, kreditor atau analis berkisar di 1.2 -2.0.

Beberapa analis kadang kala menggunakan quick ratio, dimana (current assets – inventory)/current liabilities, untuk penilaian fundamental perusahaan yang lebih dipercaya. Inventory dikeluarkan dari perhitungan ratio karean inventory tidak selalu bisa dikonversikan ke dalam bentuk cash dalam waktu dekat atau dengan value yang tertera di pembukuan perusahaan. Contoh : inventory berupa material MRO tidak memiliki nilai yang sama jika dijual kembali, bahkan kadang hanya bisa dijual dengan cara obral bahkan sebagai barang scrap. Contoh kedua, inventory Finish Goods, kadang kala sudah tidak bernilai karena material sudah rusak, tidak laku di pasaran (dead stock), atau expired dan belum terbukukan sebagai write off.
Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on July 2, 2014 in EDISI KULIAH, MY OWN

 

Value

Different people has their own value, sometimes they valued the price more than quality, sometimes they valued time more than price, family more than career, safety more than production, and so on and so forth.

I have a good example about the value differences between my value and other’s value when I asked iPad2’s price to one of a friend that has access to buy from abroad last month. It just a simple question and answer, but in the end, he told me (which is actually good suggestion if my value and his are similar) “Titin, it’s better if you buy a motorcycle than you buy iPad2” okaaaayyyy…. For me, that’s kinda weird suggestion since I need mobile device that is comfortable to read email, and do some works and also must be lighter than my macbook, and he suggested a motorcycle. That’s not related at all, you can’t replace iPad2 with motorcycles. It will be reasonable if he suggested to buy galaxy or playbook or other tablets that is easier to get and cheaper.

But, after I analyze the different value between his and mine, I understand why he could come out with the idea. Maybe because he valued the price while I valued the need and the function. For him, when the price between 2 items are similar, he chooses to buy the bigger one or more functional one, while for me, since iPad2’s functions cannot be replaced by motorcycles, it useless if I accept the suggestion.

That’s a story, now let’s talk about customer’s value. Each customer/group of customers has its own value, to be success, the product must be something that could reach the value and there is not yet specific product or service had addressed that value. One of the biggest shampoo/soap producer knew this value very well when they produce sachet package for suburban people. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on June 16, 2011 in EDISI KULIAH, MY OWN

 

Tags:

Kreatifitas ber-Diferensiasi

Ceritanya nih, aku sedang menyusun final project tentang memperkuat daya saing dengan objek bisnis retail kecil yang dikelola keluarga. Sibuklah searching teori dan segala jenis model business yang ada di text book dan diterapkan oleh pebisnis-pebisnis sukses seantero jagad. Setiap kalimat yang ku ketik, otak langsung mulai menilai dan menganalisa situasi toko sekarang. Satu persatu melihat beberapa kekuatan yang mungkin dimiliki, dan banyak kekurangan yang ditemukan. Salah satu kekurangan yang langsung teridentifikasi adalah tidak adanya differensiasi yang bakal menentukan bisnis model yang akan ku bikin.

Kalau merunut teori Generic Strategies oleh bapak Business Strategy, Michael E. Porter, untuk mendapatkan posisi yang kompetitif (competitive positioning), bisa melalui 4 cara, yaitu differentiation, cost leadership, focus cost leadership dan focus differentiation. Biasanya product/service yang memilih differentiation memiliki keuntungan menjual dengan premium price karena fitur yang terdapat di produk/servis tersebut tidak dimiliki/belum dimiliki produk lain. Tapi bisnis model yang ingin ku cari adalah, regular product with fair price, but it has a uniqueness that could make customers talk about, spread it out and coming back to the shop.

Karena tanpa differensiasi, pelanggan tidak bisa membedakan produk yang satu dengan produk yang lain, tidak bisa membedakan toko retail yang ini dengan retail yang lain. Diferensiasi menjadikan customer mengeluarkan Rp.30000 untuk satu cangkir kopi di Starbuck karena Starbuck berbeda dari tempat minum kopi lain, diferensiasi membuat 7Eleven dipenuhi anak-anak muda sampai tengah malam karena berbeda dari supermarket dan minimarket lain, dan membuat J-Co berbeda dari Dunkin Donuts serta menjadi favorit. Tapi jika ini produk umum, dengan segmentasi pasar untuk menengah ke bawah, konsep toko yang gampang ditiru, banyaknya barang substitutes, mungkin sebaiknya aku menunggu hasil survey pendapat pembeli sebelum bisa memikirkan kekuatan dan mencari celah untuk berdiferensiasi.
Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on March 23, 2011 in EDISI KULIAH, MY OWN

 

Bermain Dengan Scenario Planning

Di sela-sela menyelesaikan Ujian Tengah Semester Strategic Decision Making and Negotiation, di sela-sela mengerjakan semua assignment individual dan group, dan karena nanti sore mau ketemuan dengan anggota group untuk membuat presentasi scenario planning dan business strategy… I realized that this Scenario Planning topic pull me to a level where I found out one of the reason, how high management level could think the strategy and make some plans for their company for 10 years or more, and I know I can do it also, walau level kualitasnya berbeda, tapi ini kan masalah waktu dan pengalaman, hehehe. The most important thing is, now I know the way and I could make action of plans to anticipate the future of something. isn’t it great? ^_^

Setelah membaca beberapa teori, aku mencoba bermain untuk mengetahui seberapa jauh yang kupahami tentang topik ini, pemahaman dan cara-nya masih sederhana, tapi kesenangannya tidak berkurang. 😀

This is great method, and fun… ^_^

Antara skenario dan ramalan (forecast), keduanya nampak hampir sama, tapi berbeda. Forecast mengandalkan keakuratan data dan mencari satu jawaban apa yang akan terjadi selanjutnya. Sementara skenario planning berbicara tentang menggabungkan sekian banyak factor dan melihat kemungkinan yang bisa terjadi. Karena tidak ada yang bisa meramalkan masa depan.

Let’s play this scenario planning game

Make it simple, let see the future of buku/hardcopy 10 tahun dari sekarang dengan melihat 2 faktor saja yaitu penemuan handheld ebook yang sangat inovatif dan demand buku. Dalam skenario planning, kita harus melihat kemungkinan yang bisa terjadi dan melayangkan imajinasi untuk membuat satu set cerita. Caranya dengan membuat 4 skenario yang terdiri atas extreme result, nothing happen, dan dua skenario gabungan.

Skenario yang mungkin terjadi:

1. Ebook menguasai dunia. Tahun 2015 ditemukan perangkat keras media ebook yang bisa diperoleh dengan harga murah sehingga setiap orang memiliki alat tersebut seperti layaknya handphone saat ini. Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by on February 22, 2011 in EDISI KULIAH, MY OWN

 

Semester 3 – 2011

Ini adalah semester terakhir, next 4 months ga ada kelas week end lagi. Module yang dipelajari memasuki tahap imajinasi kelas kakap. Judulnya saja Business Strategy, Strategic Desicion Making and Negotiation, dan Business Leadership and Communication. Mulai membicarakan corporate strategy planning, business model, smart analysis, treeplan, sensitivity analysis, leadership things, sampai scenario planning dimana rencana yang dibuat memiliki possibility tidak terbatas, input tidak terbatas yang hasilnya output tak terbatas dimana semua hal dibolehkan untuk bisa terjadi.

Kalau di dua semester yang lalu module-module yang dipelajari mengenai functional, sekarang all about strategy. Berkali-kali para dosen membicarakan serta menekankan tentang kreatif dan innovatif. How?? Dengan cara, for temporary jadilah orang gila yang mengeluarkan ide-ide paling gila tanpa memikirkan batasan-batasan yang ada. Pikirkan apa yang dilakukan seseorang yang karena perbuatan atau perkataannya dia disebut “orang gila”. Mulailah dari situ.

Susah? yup, memang susah. Karena itulah CEO dibayar mahal, untuk memikirkan hal-hal gila yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Itulah yang membuat Ipod booming, yang membuat redhat sukses, yang membuat Toyota menguasai pasar mobil di Indonesia, yang membuat China memberikan hukuman mati kepada koruptor.

Topik-topik imajinatif inilah yang sedang dan akan kupelajari, dan sadar kalau Indonesia membutuhkan orang-orang gila dengan ide-ide gila untuk membuat bangsa ini maju.

 
Leave a comment

Posted by on February 15, 2011 in EDISI KULIAH, MY OWN

 

Marketing in General

Marketing Management is second module in my first semester, it means I will learn how to create attractive advertisement, what will I do and say to attract customers, how should I behave to sell at huge volume, bla bla bla… Hey, is this a class for master degree or class for sales agent?? hahahaha
Ok, forget about all I write above, since there are 10 mistakes of marketing perception occur in our life.
10 Common Misconceptions about Marketing (Mr. Jacky Mussry presentation in Marketing class)

1. Marketing is Selling: Selling is persuasion, Persuasion is cheating
2. Marketing is promotion: promotion is advertising, advertising is bullshiting
3. Marketing is price war: price-war is discount and discount is buying more
4. Marketing is packaging: packaging is covering, covering is illusioning
5. Marketing is naming: naming is logo-ing, logo-ing is designing
6. Marketing is multi-level: Multi-level is motivational, motivational is pushing
7. Marketing is for product
8. Marketing is to customer
9. Marketing is department
10. Marketing is for big companies

In this class I knew that marketing has been developed to marketing 3.0. Wow, I prepare for marketing only, and they told me it already 3.0. What is the concept of 1.0 and 2.0?. Where have I been???
Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 8, 2010 in EDISI KULIAH

 

Knowledge Management in Learning Organization Context – Book Summary

Knowledge Management in Learning Organization Context
Jann Hidajat Tjakraatmadja

As part of my assignment, and as reference if somebody need it. for notes: original book written in Indonesian, and I am sorry if I did some mistakes in translation. In my real summary, there are some graphics and chart, but none in here, sorry again.. ^_^

Chapter 1. New Paradigm Of Knowledge Era

There are 3 era of change (Alvin Toffler, “The Third Wave”, 1980), manual (Physic), Industry (Machine) and Knowledge. In knowledge era, we can find 3 characteristics of this era, first, its easy to find but also it easiest to out of date, second the complexity of problems and last is the change of situation that impacted organization is unpredictable.
Knowledge era need new organization that has ability to change with the times. It also need mature human with global competency, ethical and creative. At last, this new organization and mature human need conducive neighborhood for supporting the change.

Chapter II. Why Indonesian’s reformation is very slow?
When Asia crisis attack, Indonesian declare its reformation. But, until now the reformation doesn’t show the speed as expected. the criteria to valuate these reformation is comfortability to do business in a particular country. there are 10 indicators: the easiness to: start business, get license, employer availability and rules, property, loan access, investor protection, tax, inter country trading, contract clause and exit strategy. Indonesia did not have all of these, because of some reasons below:

1. Our nation is losing sensitivity (dead) taste. Some company is in comfort zone and doesn’t know how to react for the successful future.
2. Reform of our nation too far. The reformation gave too much freedom, and forgot to freedom set boundaries or restriction, while Indonesian mentality is still in “teenager” phase Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on October 20, 2010 in EDISI KULIAH, MY OWN