RSS

Category Archives: MY OWN

I write all of these to share with you.

CHANGE MANAGEMENT

There is something that always the same from years ago until now, that is CHANGE.

*some quote that I found

For each new project, new client, new team, there is always new knowledge, new skill, new understanding, a lot of wow moment.

In my current project, the training session#2 had finished last month, where one of the topic is Change Management. I want to write my perception for this topic, since I feel like, I get more understanding every time I did training evaluation with training participants or discuss it further.

The actual title is Steps Of Change (Langkah-Langkah Perubahan), but I would write it as Action vs Reaction during Change management.

  1. Action : You need change, you have figuring it out, and you have plan. You start with Socialization. Introducing what type of change needed, the purpose, the impact, the benefit, and maybe the reward/punishment system.

At this step, usually, the reaction as below:

  • Awareness – I’m being told something I don’t like
  • Denial – No Way!
  • Fear – What will happen to me?
  1. Second action is ensuring the Understanding of this change, meaning your job did not finish with socialization only, you need follow up the socialization process and ensuring the understanding. At this steps, you should get reaction as below:
  • Exploration – Let me take alook anyway
  • Understanding – I can see why they want to do this
  1. They start to see it, its time you go further to action 3, get their commitment. Use the benefit of their reaction which is :
  • Positive perception
  1. Continue to action 4, Implementation, take action, do the change now, not later, not tomorrow. This is where you need to ensure your participants get their learning process
  • Learning – Let me test it

Test the water, you don’t need to wait and make it perfect.

  1. Use action 5, do active Communication to get all the information you need to make it better and perfect. At this step, your audience should start to give their opinions when their reaction is :
  • Adoption – we have to do it this way
  1. Your change is running smooth, your participants had level :
  • Internalization – This is the way we work here.

The last step you need to do is Monitoring, follow up and evaluate the change. Control and monitor it closely. Is there run smoothly, should you modify it, is everyone understand it?

But how do you do the change?

In training#2, we also teach/showed strategies that could be used to ensure your team change.

  1. Use enforcement. You have new policy to improve Safety, Health and Environment? This is the best strategy to implement it directly without delay.
  2. Use regulation. Create the policy, give reward and punishment for compliance and non compliance.
  3. Give education. There is new process , new unit, new machine. Educate your employees.
  4. Be a role model. Whatever change you wanna do. You must change first.

 

In our project we were focus more on behavior change and the change management above is the combination of our client theory with our theory for step change model. Participants (Supervisors up) need to understand that its not enough if its only them that change, but they also must realize that its their responsibility to ensure their team must change too. Change will create reaction, so as superior they must do the correct action.

But you could find many other theories for change management, example John Kotter with his 8 step Change model. The steps are :

  1. Create Urgency
  2. Form a powerful coalition
  3. Create a vision for change
  4. Communicate the vision
  5. Remove Obstacles
  6. Create short term wins
  7. Build on the change
  8. Anchor the changes in corporate culture

Use any steps of change management that you feel more suitable for your organization.

 
Leave a comment

Posted by on October 11, 2017 in MY OWN

 

SAFETY STOCK

Yuuk bicara sekilas tentang safety stock dan cara menentukan safety stock.

Kenapa kita perlu safety stock:

  1. Ketidakpastian (varian) pada waktu tunggu pengiriman material oleh supplier (supplier lead time) yang menyebabkan perlunya safety stock bahan bahan mentah atau spare part untuk maintenance.
  2. Ketidakpastian (varian) pada lead time pengiriman yang menyebabkan perlunya safety stock untuk bahan mentah, spare part untuk maintenance ataupun barang jadi.
  3. Ketidakpastian (varian) permintaan customer yang menyebabkan perlunya safety stock untuk barang jadi untuk memenuhi permintaan-permintaan tak terduga oleh customer.
  4. Data yang belum mendukung

Safety stock atau beberapa menyebut buffer stock adalah sejumlah inventory yang dibutuhkan untuk melindungi dari kebutuhan yang tidak diketahui/diharapkan. Kebutuhan-kebutuhan yang  tidak diketahui dan tidak diharapkan ini merupakan varian yang terdapat selama proses penyediaan inventory. Seperti tulisan di atas kenapa dibutuhkan safety stock, varian-varian yang dimaksud termasuk varian dari kualitas supplier, kepercayaan terhadap lama pengiriman, kapasitas produksi supplier, pola permintaan customer, dan data yang belum cukup/belum bisa dipercaya. Jika kita bisa meminimalkan dan mengendalikan semua varian dalam proses penyediaan inventory dari supplier sampai customer, maka kita bisa mengurangi jumlah safety stock secara dramatis.

Formula yang digunakan untuk menentukan safety stock bisa beragam. Salah satu formula yang dikenal adalah menghitung safety stock menggunakan norm target service level dan deviasi jumlah permintaan dan waktu pengiriman. Formula seperti dibawah:

images-11

Formula ini bisa digunakan untuk barang yang memiliki sifat permintaan yang stabil, dan lama pengiriman yang stabil juga. Karena saat deviasi permintaan atau lama pengiriman tinggi, maka faktor pengali Norm akan tinggi dan menambah jumlah safety stock yang dianjurkan.

Selain itu, formula lain yang digunakan bisa sangat bervariasi. Ada kalanya angka safety stock diperoleh dari jumlah kebutuhan selama setengah waktu pengiriman. Ada kalanya dengan menghitung selisih permintaan maksimal terhadap lead time pengiriman maksimal dengan permintaan minimal/rata-rata terhadap leadtime pengiriman minimal/rata-rata.

Karena itu, saat menentukan jumlah safety stock, seorang inventory controller/analis harus memiliki data yang lengkap, melakukan kompilasi dan analisa statistik, dan menggunakan data tersebut untuk menentukan tingkat resiko satu SKU.

Tapi terlepas dari formula dan jumlah safety stock yang digunakan, tujuan utama yang harus dilakukan adalah mengurangi jumlah safety stock yang akan mengurangi jumlah inventory hingga level diharapkan sangat minimal.

Caranya, kurangi dan kendalikan varian yang ada karena bicara mengenai safety stock berarti bicara mengenai bagaimana cara mengatur varian (variations management).

Banyak yang bisa dilakukan, seperti

  1. Membawa gudang supplier dekat dengan kita, yang akan mengurangi leadtime pengiriman secara drastis
  2. Memastikan jumlah stock supplier sesuai dengan rencana kebutuhan, yang bisa dilakukan dengan menginformasikan supplier sebelumnya mengenai rencana produksi/kebutuhan. Sesuaikan panjang forecast yang diberikan dengan leadtime supplier
  3. Kenali pola permintaan customer, analisa dengan berbagai varian dan sudut pandang. Pelajari root cause penurunan dan kenaikan permintaan yang sekilas terlihat tanpa pola

 

*Tulisan ini sebagian besar bersumber dari Lean Six Sigma Logistic oleh Thomas Goldsby dan Robert Martichenko.

 
Leave a comment

Posted by on September 9, 2017 in MY OWN

 

Supplier-Buyer Dependency

Kalau berbicara mengenai hubungan antara supplier-buyer… mesti dilihat kekuatan dan ketergantungan satu sama lain, walaupun sifatnya berupa hubungan timbal balik dan tidak bisa dilepaskan. Baik buyer ataupun supplier harus mengetahui posisi dan kekuatan diri sendiri dan pihak lainnya untuk memastikan hubungan yang terjalin berjalan dengan baik dan lancar. Kalau masing-masing pihak telah mengetahui posisi dan kekuatan masing-masing, hubungan keduanya bisa berlanjut ke tingkatan yang lebih dari sekedar penjual dan pembeli, seperti hubungan konsep partnership, cooperation, dan integrasi, bahkan aquisition. Jika satu perusahaan belum mengetahui posisi mereka, kecenderungan yang terjadi adalah ketergantungan pada pihak lain, atau bahkan arogansi yang berlebihan sehingga mengancam kelangsungan perusahaan.

Jika satu perusahaan berada dalam posisi not being dependent, atau berada dalam posisi independence, maka akan memiliki lebih banyak kebebasan memilih dalam melakukan tindakan dan kebijakan untuk mencapai goal atau tujuan, yang jika di persempit dalam konsep penjual pembeli, penjual atau pembeli yang independence  mempunyai keuntungan yang lebih, karena memiliki lebih banyak kebebasan membuat pilihan untuk menentukan jalannya hubungan jual beli, termasuk kekuatan saat melakukan negosiasi. *Garis bawahi memiliki lebih banyak pilihan, karena tidak berarti perusahaan yang independence bisa melakukan apa saja yang diinginkan atau mendikte pihak lain.

Jika satu perusahaan terlalu tergantung pada pihak lainnya, biasanya menghasilkan hasil yang tidak optimal. Walaupun penilaian dependency dan independency juga tidak bisa dilakukan melalui pilihan ya dan tidak, dalam artian tidak semua independency baik, dan tidak semua dependency tidak baik, tapi banyak hal yang harus diperhatikan, termasuk kekuatan pihak lainnya.

Jadi, apa saja faktor yang bisa mempengaruhi dependency suatu perusahaan atau organisasi? Dalam tulisan yang sudah cukup lama, (Determinants of dependence in dyadic buyer-supplier relationship, dan menjadi sumber utama tulisan ini), Gelderman dan Van Weele memberikan model tentatif penyebab ketergantungan suatu organisasi.

1. Nilai transaksi (Financial Magnitude), yang dibandingkan dengan total input yang diperoleh supplier (ketergantungan terhadap buyer) atau total output yang dikeluarkan buyer (ketergantungan terhadap supplier).

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on September 13, 2014 in BOUT SCM, MY OWN

 

Tags: ,

Pen Drawing

Biasanya drawing yang kubikin hanya menggunakan pensil, jadi jika ada kesalahan, koreksinya bisa segera dilakukan. Bahkan jika kesalahan tersebut dilakukan di bagian yang sama, berulangkali, tetap bisa dilakukan koreksi walau kertasnya jadi sedikit lecet. hehehe
Sekarang, aku mulai membuat drawing menggunakan pulpen (drawing pen) dan arsiran pensil, belajar dari You tube-nya Eli Ofir, pengalaman pross pembuatannya jauh berbeda. Terutama saat harus mulai menggunakan drawing pen untuk semua outline drawing. Karena merupakan point of no return, takut untuk mulai menggoreskan walau hanya satu goresan pendek. Takut jika masih ada outline pensil yang masih salah, takut jika persepsi drawing masih belum pas, takut jika goresan drawing penku melenceng.
Jadi aku butuh waktu untuk berdamai dengan ketakutan tersebut, menerima kenyataan kalau aku memang penakut, dan mulai melakukan goresan pertama, dan langsung melakukannya dengan kesalahan. Xixixixixi…. That’s life.. 🙂

Tapi syukurlah goresan awal telah dibuat, karena seandainya saat pikiran hanya dipenuhi pertanyaan bagaimana jika masih ada garis yang salah, bagaimana jika persepsinya masih tidak sesuai, bagaimana jika goresan pulpennya melenceng….. akhirnya tidak ada satu goresan pulpen pun yang dimulai, maka drawingku ga kelar-kelar. Tidak maju, tidak bergerak. Apalagi, drawer iseng-iseng kayak aku, yang menggambar tergantung mood, ga mungkin bisa membuat sebuah drawing yang dari awal sampai akhir tidak mengalami cacat or salah-salah gores. Tiba-tiba aja ada goresan yang melewati batasnya, ada aja goresan yang tidak sesuai, ada aja goresan yang kurang pas. 😀

Old House-Eli Course

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 22, 2014 in MY OWN

 

Working Capital

Salah satu penilaian fundamental perusahaan adalah working capital. Working capital atau modal kerja perusahaan diperoleh dari current asset – current liabilities. Current asset (aset perusahaan yang bisa dikonversikan ke dalam bentuk cash dalam waktu 1 tahun atau kurang) bisa berupa kas dan setara kas, account receivable, inventory, short term investment, dan securitas *sumber investopedia.

Sementara current liabilities (hutang perusahaan yang jatuh tempo atau harus dibayar dalam waktu 1 tahun atau kurang). Yang termasuk dalam current liabilities adalah account payable, pinjaman dan bunga yang jatuh tempo dalam 1 tahun, accrued liabilities, dan hutang jangka pendek lain.

Working capital yang kecil mengindikasikan kekurangmampuan perusahaan membayar current liabilities, sementara working capital yang besar mengindikasikan perusahaan kurang efektif menggunakan asetnya atau memiliki inventory yang terlalu besar. Angka ratio working capital atau current ratio(current asset/current liabilities) yang dianggap sehat oleh investor, kreditor atau analis berkisar di 1.2 -2.0.

Beberapa analis kadang kala menggunakan quick ratio, dimana (current assets – inventory)/current liabilities, untuk penilaian fundamental perusahaan yang lebih dipercaya. Inventory dikeluarkan dari perhitungan ratio karean inventory tidak selalu bisa dikonversikan ke dalam bentuk cash dalam waktu dekat atau dengan value yang tertera di pembukuan perusahaan. Contoh : inventory berupa material MRO tidak memiliki nilai yang sama jika dijual kembali, bahkan kadang hanya bisa dijual dengan cara obral bahkan sebagai barang scrap. Contoh kedua, inventory Finish Goods, kadang kala sudah tidak bernilai karena material sudah rusak, tidak laku di pasaran (dead stock), atau expired dan belum terbukukan sebagai write off.
Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on July 2, 2014 in EDISI KULIAH, MY OWN

 

Lean Six Sigma Logistic

Dapat tugas baca 305 halaman buku dari senior, dengan judul Lean Six Sigma Logistic, dan sampai sekarang tugasnya masih belum selesai dilaksanakan, tapi tetap in progress.. ^_^

But anyway, dari baca daftar isi, kata pengantar, dan bolak-balik beberapa halaman secara sekilas, it’s interesting and nice book to read. Di sela-sela waktu berusaha menyempatkan diri untuk benar-benar membaca, sapa tau ntar kepake buat implementasi proyek di client.

So, tulisan ini menulis ulang bab pertama buku tersebut, dan berhubung bukunya dalam bahasa inggris, jadi tulisan ini jadi campur-campur deh, karena aku banyak copy paste isi buku.

LEAN

Lean adalah “Elimination of waste from all processes”, yang memiliki point utama “Increase speed and flow”. Jika di utilize dengan efektif proses lean bisa menghasilkan “the greatest possible value in the eyes of customers” dan “healthy return for the company”.

Sementara tujuan utama Lean yaitu minimum total cost dalam logistic. Minimum total logistic cost sendiri bisa diperoleh dari

1. Eliminate waste

2. Decrease work in process inventory

3. Decrease process and manufacturing lead times

4. Ultimately increasing supply chain velocity and flow

Waste yang paling sering ditemukan dalam logistic adalah jumlah persediaan yang berlebih, tapi selain masalah inventory, terdapat 6 kriteria waste lain, sehingga ditemukan 7 potensial waste yang sering terjadi di Logistic
Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on April 27, 2014 in BOUT SCM, MY OWN

 

Tags: , , , ,

Belajar Gitar Yuukk…

My Guitar

Sudah setahun lebih nih belajar gitar, dari genjreng-genjreng gitar-nya Wanda di Samarinda, sampai sekarang genjreng-genjreng pake APX 500II white-ku. Awal belajar, sempat privat 5 kali pertemuan, tapi berhubung mesti ngerjain proyek di Soroako, berhenti deh privatnya, trus lanjut belajar gitar melalui youtube, buku, artikel-artikel, dan nanya teman-teman, jadi sampai saat ini aku meng-kategorikan diri sendiri sebagai pemula, soalnya cuman bisa chord sederhana dengan teknik strumming dan petikan sederhana juga. Padahal kalau melihat youtube, teknik-teknik gitar banyaaakkkkk banget. dan keren-keren… Mimpinya bisa fingerstyle canggih kayak Sungha Jung.. 🙂

But, beberapa lagu untuk pemula sudah bisa dimainkan dengan agak lancar ^_^. Nah, proses mencari chord lagu yang sesuai untuk pemula ternyata lumayan seru juga, karena banyak terms and conditionnya, hehehehehe.

Misalnya:
chord lagu sebisa mungkin tidak memiliki bar chord. Menurutku, bar chord ini musuh utama pemula. Ampun dah, sampai sekarang juga masih sering fals tiap menggunakan bar chord, apalagi kalau memainkan lagu dengan ritme cepat. Jadi kunci F dan Bm yang terdapat dalam nada dasar C, dimainkan tanpa bar chord. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on April 23, 2014 in MY OWN

 

Tags: